Sunday, 7 July 2013

Behind the scenes: Rouge ni Naritai (ルージュになりたい)

Posted by Unknown at 19:17 0 comments
Banyak yang tanya kapan novel saya ルージュになりたい (Rouge ni Naritai) terbit.

Saya sendiri jujur saja tidak tahu X_X
tetapi yang saya tahu sih MoU sudah keluar dan fee sudah cair. Tetapi apalah arti fee kalau ternyata novel saya kagak terbit-terbit.

Pada hari ini saya mau cerita tentang behind the scenes.. ya, semua tentang kegilaan dalam penulisan 2 bulan PAS ini. Ya, pas 2 bulan. Saya pun tercengang karena biasanya kalau menulis itu paling banter 3-4 bulan baru kelar.

Cerita ini dimulai ketika menjelang ujian nasional dibuka berbagai macam acara-acara di Diva Press. Saya berpikir untuk ikut kampus fiksi (salah satu acara diva press yang merupakan pelatihan kepada anak-anak muda) pada awalnya. Tetapi orang tua tidak merestui.

Salah satu alasannya karena SUDAH DEKAT UJIAN NASIONAL... Saya kemudian terpekur bingung. Lalu bagaimana?

Akhirnya saya mencoba peruntungan di #lelangnulisnovel.
sistem lelang ini sederhana. Pak Edi (CEO Diva Press Group) meminta penulis-penulis yang mengajukan diri untuk kemudian menulis cerpen sesuai tema.

Hasilnya?
Saya kalah!

Tapi, pak Edi menawarkan saya untuk bikin cerita sendiri.
Jedar Jeder. Akhirnya saya masuk program "bimbingan" seperti beberapa anak lain.
Mulailah mengajukan sebuah cerita yang pernah tertumpuk lama di folder. Cerita yang awalnya mau dimasukan ke lomba novel jepang, terus dialihkan ke lomba cerpen jepang tetapi semuanya batal.

Perlahan demi perlahan, mulai dari keraguan Pak Edi karena cara penyampaian saya beda-beda (bagai ada dua orang, katanya) sampai ide di approve pertama kali.. Bagaimana saya bersorak gembira karena langkah pertama akan mimpi dan keinginan saya di ulang tahun ke tujuh belas desember 2012 silam akhirnya tercapai.

Namun pada hari itu, ujian nasional tinggal satu hari lagi.Mau tak mau saya melepas cerita itu sebentar. Berharap ide tak pernah terlupa. Konsentrasi sempat terpecah. Rasanya saya rindu menulis. Tapi buku fisika di depan mata!

Belajar belajar!

Akhirnya setelah ujain nasional selesai. Dash! langsung saja ditancap semuanya. Haridemi hari, bab dem bab yang sayak irimkan. ada kesalah teknik atau penggunan tanda baca. Rasanya terus dan terus sampai semuanya selesai. Tepat 15 Juni 2013.

Artinya terhitung tanggal Ujian Nasional yaitu tanggal 15 April 2013, tepatlah dua bulan!

Saya sendiri syok bukan kepalang.

Ini, menyenangkan.

Kalau ditanya, kapan terbit? saya pun tak tahu.
Saya masih menunggu proses editing. Semoga secepatnya.

Yosh!

Apa pun mimpimu, kejar dan berusahalah. Usaha keras tak akan mengkhianatimu. Ganbatte Kudasai !

Sunday, 23 June 2013

Rouge Ni naritai prolog & first chapter

Posted by Unknown at 07:05 0 comments
PROLOG
Seorang anak berusia hampir delapan belas tahun mendengus pelan menatap langit yang mulai menampakan warna kemerahan. Ia tahu, cepat atau lambat, ia harus pulang ke rumah. Rumah yang dingin dan sepi, sama seperti kesendiriannya di sekolah ini.
Hidupnya sama saja. Hanya hitam dan putih; bangun lalu bersiap untuk pergi ke sekolah, naik bis dengan jadwal setengah 9, duduk diam di kelas, pulang dengan bis jam empat, mengerjakan pekerjaan rumah, istirahat. Begitu saja. Hanya begitu.
Rutinitas yang membosankan. Pikirannya berpencar entah ke mana. Mencari sesuatu yang terasa hilang dari hidupnya. Namun rasanya semua itu hanya sia-sia. Karena semakin ia mencari, semakin ia tersesat dalam pikirannya sendiri.
Anak ini tidak pernah mengecewakan orang tuanya. Ia juga memiliki otak yang brilian hingga selalu mendapat pujian dari guru-guru. Bukan hanya itu, prestasinya di bidang non-akademik pun dapat diacungi jempol. Tetapi lagi-lagi, masih ada yang kurang di hatinya. Sesuatu yang kosong, yang seharusnya ada.
Untuk itulah, dalam beberapa hari ini, anak itu berjalan menyusuri lorong-lorong sepi. Mencari jawaban akan pertanyaan yang seharusnya diajukan kepada dirinya sendiri. Semakin melangkah, semakin ia yakin akan sebuah keputusan. Keputusan yang mungkin bisa mengubah hidupnya.
Lambat laun, ia mempercepat langkahnya dengan percepatan konstan. Makin lama makin cepat, hingga gema dari derap langkah sepatunya terdengar. Sepasang kaki itu berlari menuju lantai paling atas. Napasnya mulai terengah-engah namun ia tetap meneruskan langkahnya.
Dihembuskannya napas lega ketika kakinya memijakan lantai teratas. Cahaya menyilaukan dari matahari menerobos masuk melewati celah yang ia buat ketika ia membuka pintu. Ia mengerjapkan mata beberapa kali agar matanya dapat beradaptasi.
Anak itu tersenyum pada mentari yang akan tenggelam. Ia berdiri menatap langit yang oranye. Ia tahu bahwa mentari masih akan bertengger di ufuk barat lebih lama lagi.
“Apa lagi?” Desisnya risau, sementara tangannya seperti menghitung sesuatu yang berputar di kepalanya. Mimiknya menandakan ia sedang berusaha mengingat sesuatu. Sambil menatap langit, ia terus bergumam dalam hati.
Kadang ia berpikir tentang hidupnya sendiri. Mungkin saja ketika ia terlahir kembali ke dunia, anak ini akan mengalami hal-hal yang berbeda. Sebuah kehidupan yang tidak semonoton sekarang. Jalan yang akan berubah-ubah seperti warna langit yang berubah setiap jamnya.
“Bodoh.” Ia tertawa geli dalam hati. Namun imajinasinya masih saja berlaku liar. Otaknya mengandaikan kemungkinan ia akan lahir dari sebuah keluarga petualang yang menyusuri setiap lembah dan pegunungan. “Atau bisa jadi terlahir sebagai bagian dari sebuah keluarga kerajaan di daratan Eropa. Sepertinya menarik,” batinnya dalam hati.
Tertawa. Lagi-lagi ia menertawakan pikiran bodohnya. Sebuah hal yang mustahil. Ia membenturkan kepalanya di tralis besi itu satu kali. Sejak kapan ia jadi sering berkhayal begini?
“Mungkinkah karena dia?” Ia menengadah seperti meminta jawaban pada sang pencipta. Tetapi beberapa detik kemudian ia menggelengkan kepalanya. “Mana mungkin.” Kali ini nadanya seolah mengejek. Mengata-ngatai dirinya sendiri.
Ia menjulurkan kepalanya ke bawah. Ia tahu dengan amat pasti; kalau ia terjatuh, ia pasti akan mati dalam sekejap.
“Tetapi bukankah lebih baik agar aku pergi,” Batinnya. “Kurasa tidak akan ada yang memerhatikanku bahkan tidak ada yang akan menangisiku. Mungkin saja, hanya ini satu-satunya cara agar aku bisa mengetahui tentang hal-hal yang terjadi ketika aku terlahir kembali.”
Tangannya merogoh kantong celananya. Sesuatu yang selalu ia simpan. Sebuah bukti memori yang tak akan pernah ia buang. Selembar foto yang merefleksikan dirinya bersama seseorang. Mereka tertawa begitu bahagia di sana. Tetapi kini, berbeda. Tawa itu kini berubah menjadi senyum pilu.
Anak itu tertawa. Tawa getir penuh kesedihan. Dadanya semakin sesak dan lambat laun, air mata turun ke pipinya. Tak jelas. Ia pun tak mengerti. Ia tertawa sambil menangis.
Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Sesuatu yang membuat ia merasa bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk meluapkan perasaannya. Dianggap gila pun ia sudah tak peduli.
Mendadak suara tawa itu berubah menjadi diam. Suasana menjadi sunyi. Sebuah senyum mengembang di wajahnya; senyum kepuasan. Ia telah memutuskan sesuatu—sepertinya begitu.
Ia tercenung, “Terlalu cepat.”
Batinnya masih memberontak, tetapi keinginan dagingnya justru lebih kuat. Egonya sendiri yang meminta ia untuk melakukan hal tersebut. Ia sudah terlalu lelah; lelah untuk menapaki hidup yang seperti ini.
Dengan tangan yang bergetar ia menggenggam tralis besi putih di hadapannya, menarik napas, merasakan jutaan molekul oksigen masuk ke paru-parunya. Kakinya mulai menyelinap masuk di antara celah-celah besi setinggi satu meter itu.
Namun, “Hei!”
Ia menengok ke belakang dan seseorang berada di sana.



1. Sebuah Langkah
Angin musim dingin menghembus. Sesuatu yang membuat gigi anak-anak yang sedang bersembunyi di balik pohon itu bergemerutuk. Beberapa orang yang lewat memperhatikan gerombolan anak itu dengan bingung. Namun ketika orang-orang tersebut menengok ke arah lain, mereka langsung mengangguk pergi.
Arah lain itu. Di sana, ya tepat di sana. Di sebuah bangku panjang yang dingin, Seorang anak laki-laki berjaket tebal duduk sambil menghentakan kakinya. Dari mimiknya, ia terlihat ragu dan takut.
Beberapa kali ia menengok ke arah pohon sakura tempat teman-temannya berdiri. Salah seorang dari mereka mengacungkan jempol kanannya. “Pasti bisa.” Hanya itu yang terbaca dari gerak bibir si pengacung jempol.
Anak yang duduk di bangku panjang tersebut mendengus. Tangannya menarik topi yang ia kenakan. Rasa frustasi menjalar melalu pembuluh darahnya. Jantungnya berdegup kencang. “Ini tak semudah yang kau bayangkan, Bodoh!” Pekiknya dalam hati.
“Toyama, apakah kamu sudah menunggu lama?”
Suara itu membuat anak laki-laki itu mendongak. Seorang gadis terengah-engah di depannya sambil membungkuk. “Maaf aku terlambat.”
Suara perempuan di hadapannya membuat atom-atom di dalam tubuhnya bergetar. Elektron-elektronnya seperti bertumbukan yang lenting secara sempurna[1].
“Ti..Tidak apa-apa kok.” Toyama menggeser posisi duduknya, memberikan ruang untuk gadis ini untuk duduk. Tubuhnya semakin bergetar. Sepertinya selain udara dingin, wanita juga bisa membuat ia menggigil.
“Ada apa, Toyama? Tak biasanya kamu memintaku untuk datang. Maksudku, berdua seperti ini.”
Dada Toyama serasa ingin robek. Jantungnya ingin keluar setiap kali perempuan di sebelahnya melafalkan namanya. Padahal gadis ini bukan dalam sekejap mata dikenalnya. Enam belas tahun, Kawan. Mungkin saja ini sudah keseribu kali perempuan di sebelahnya memanggil namanya. Tetapi yang kali ini, berbeda.
Mata Toyama bergerak ke arah pohon sakura tempat sahabat-sahabatnya yang terus menyemangatinya. Ia merasa seperti berada pada pertandingan sepakbola namun dengan pemandu sorak yang berkostum jaket tebal dan rambut pendek.
“Aku ingin membicarakan sesuatu, Ayaka.” Ia menarik napas sejenak. Mengumpulkan keberanian yang mungkin telah menguap. “Mungkin aku terlihat gila.” Toyama memainkan jari-jarinya yang terbungkus sarung tangan. “Tapi, aku menyukaimu.”
Gadis itu menampakan ekspresi kaget lalu tiba-tiba menunduk. Ujung sepatunya bergerak-gerak. Bahkan di musim dingin ini, ia merasa wajahnya masih tetap bisa memerah. Sahabat sejak kecilnya ini berhasil membuat darah di tubuhnya berdesir dengan cepat.
“Aku tau, mungkin aku gila.” Ia tertawa kecil, menertawakan dirinya sendiri. “Maksudku, kamu itu memiliki banyak teman. Juga banyak yang lebih baik dari aku, tetapi…” Toyama menggaruk kepalanya. Ia kehabisan kata-kata. “Apa kamu mau jadi pacarku?”
Ayaka masih tetap diam mematung dalam kebimbangannya. Sesuatu yang membuat Toyama semakin takut. Ia lebih takut kehilangan Ayaka sebagai teman daripada ditolak. “Pengecut.” Batinnya mengumpat ke arah dirinya sendiri.
Satu menit rasanya seperti seabad saat menunggu. Apalagi menunggu jawaban. Ditambah lagi jawaban itu ada hubungannya dengan masa depanmu. Mungkin semenit seperti seratus juta tahun cahaya lamanya.
“Maaf.” Akhirnya kata-kata itu yang keluar dari mulut Toyama. “Kalau memang lebih baik begitu, kita—”
“Selalu saja, Toyama.” Tiba-tiba Ayaka memotong pembicaraan Toyama dengan santai. Gadis itu memang selalu begitu. Hidupnya terlihat serba ringan. Sama seperti namanya yang berarti ‘bunga yang berwarna’. Hidupnya pun penuh warna.
Toyama mengerutkan keningnya tak mengerti. Ia tak bisa membaca pikiran gadis yang kini tersenyum ke arahnya. “Kamu itu selalu gegabah.” Ia menatap wajah Toyama dalam-dalam. Sesuatu yang membuat tubuh laki-laki itu membeku. “Bisakah kamu menunggu aku mempersiapkan jawaban yang terbaik?”
Toyama semakin mengangkat alisnya bingung. “Jawaban apa?” Batinnya menggemuruh.
“Karena aku ingin menjawab ‘ya’, tapi kurasa jawaban ‘ya’ tak pernah cukup untuk menggambarkan semua.”
Sebuah kalimat yang meluncur begitu saja dari mulut Ayaka membuat Toyama hampir ternganga. Kalimat itu seolah menerbangkan Toyama ke langit yang biru di atas sana.
Ayaka kini menunduk malu. “Aku sudah menunggu sekian lama, Toya-kun. Kupikir, mungkin aku terlalu berharap. Kupikir kamu cuma menganggapku sebagai teman masa kecilmu.”
Toyama semakin mengerutkan keningnya. Ia seperti bermimpi. Benarkah ini Ayaka yang berbicara padaku? Otaknya tak bisa bekerja. Setiap kepingan logikanya tak bisa menyambungkan makna dari semua hal yang berada di hadapannya.
“Biarpun kamu pendiam, tetapi tak sedikit yang menyukaimu.” Ayaka tertawa kecil. “Kenapa kamu baru mengutarakannya sekarang, Toyama?”
Toyama mengehembuskan napasnya. Uap putih beterbangan dari mulutnya. “Kamu itu selalu dikelilingi anak laki-laki. Kento, contohnya. Dia—”
Ayaka menyikut Toyama pelan. “Dia hanya teman. Berapa kali aku harus bilang padamu, Toyama?” Gadis ini memajukan bibirnya. “Jangan katakan bahwa kamu cemburu dengan Kento.”
Toyama lagi-lagi menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ya, sudah beberapa bulan ini ia dibakar cemburu oleh kegencaran Kento mendekati Ayaka. Sesuatu yang membuat Toyama nekat untuk mengutarakan isi hatinya sebelum keduluan Kento.
“Mengakulah padaku, apa benar?” Ayaka menampakan wajah jenakanya. Wajah yang selalu menghiasi mimpi-mimpi indah Toyama.
 Toyama mengangguk juga pada akhirnya membuat Ayaka semakin terbahak.
“Untuk itukah kamu memintaku jadi pacarmu? Agar tidak keduluan Kento?”
Bagai tersambar petir, Toyama terkejut bukan kepalang. Setelah terbang begitu jauh, ia bagaikan dilemparkan ke bawah. Tidak ada yang lebih mengejutkan daripada Ayaka yang langsung bisa membaca setiap pikirannya.
Laki-laki itu hanya mengangguk. Ia tak bisa berkata-kata lagi. “Mungkin ini efek berteman selama enam belas tahun,” batinnya.
“Sayangnya, Kento sudah mengutarakan perasaannya terlebih dahulu.”
Pernyataan yang ini lebih hebat lagi efeknya. Bukan cuma dilempar. Toyama merasa tubuhnya menyublim. Seolah nyawanya melayang entah ke mana. Mulutnya hanya bisa menganga. Kepalanya terasa berat. Ia tak bisa berkata-kata.
“Lalu kamu menerima Kento, begitu?” Toyama berkata dengan cepat. Ia panik.
“Iya,” Jawab gadis itu dengan nada meyakinkan.
Kini semuanya terasa pecah berkeping-keping. Tubuh laki-laki itu tertunduk lesu dalam kebimbangan. Namun sedetik kemudian, tawa lagi-lagi terdengar dari sebelahnya.
“Toyama, kenapa sih kamu begitu polos? Bukankah sudah kubilang bahwa aku ingin jadi pacarmu? Artinya aku tentu tidak menerima Kento.” Ayaka tertawa geli sambil menyandarkan kepalanya di pundak Toyama. Jari telunjuknya menyentuh pipi laki-laki itu pelan.
Dengan hati-hati, tangan Kento mulai berani melingkar di pinggang Ayaka. “Jadi kita pacaran?”
Ayaka melirik ke arah wajah sahabat kecilnya yang kini mulai tampak dewasa. Teman yang sebentar lagi akan resmi menjadi kekasihnya. Kawan yang ia cintai sejak satu tahun belakangan ini. Orang yang membuat hari-harinya berbeda. Memberikan makna baru dalam setiap sudut selnya.
“Maumu?” Ayaka balik bertanya.
“Aku mau kamu jadi pacarku.” Toyama berkata tegas.
“Kalau begitu, terjadilah.”
Toyama menatap heran kepada Ayaka. Ini tak seperti yang ia pikirkan. Asumsi yang tergambar rumit seolah mengilang dari pikirannya. Ini sangat sederhana. Kenapa ia harus cemas? Kenapa ia harus gugup?
“Tapi kenapa?” Tanya Toyama. Ia masih ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa yang di hadapannya kini benar-benar Ayaka. Ayaka yang ternyata menyukai dirinya. Ayaka yang rupanya membalas perasaannya.
“Suka,” Katanya tertawa. “Kamu?”
“Suka,” Jawab Toyama tanpa ragu.
Senyum mengembang di sudut bibir kedua insan yang tengah dimabuk asmara tersebut. Sementara Ayaka masih bersandar manja, Toyama melirik ke arah pohon sakura tempat teman-temannya bertepuk tangan kecil. “Terima kasih atas dukungannya,” Bisik Toyama pelan ke arah mereka.
Mereka hanya mengacungkan jempol mereka sambil tersenyum lebar.

*****

Langit pagi memang selalu menjadi pemandangan favorit seorang pria yang berjalan lambat-lambat. Ia ingin menikmati setiap pemandangan yang jarang sekali ia rasakan. Baginya, suasana musim semi terasa semakin dekat saja. Sebuah pertanda bahwa ia akan pergi menanggalkan seragam sekolahnya.
Langkah kaki lelaki ini berhenti di depan sebuah rumah mungil yang beraksen kayu. Ia memandangi rumah itu sebentar. Setelah lulus nanti, ia mungkin tak akan bisa sering-sering bertemu dengan seseorang yang berada dalam rumah ini.
“Pagi, Kyouta. Tumben sekali kamu datang sepagi ini. Bukankah ini masih libur?” Sapa seseorang ramah dari sebuah rumah di sebelah. “Atau mungkin kamu ingin pergi kencan dengan Reika?”
Kyouta menengok kaget. Hanya beberapa detik sebelum kemudian ia tersenyum sambil membungkukan badannya. “Selamat pagi, Kak Kurizawa.”
Kyouta memang selalu mengagumi sosok yang berada di hadapannya. Sora Kurizawa, seorang mahasiswa di Universitas Tokyo. Universitas yang menjadi idamannya. “Hari ini aku bersama Reika ingin melihat hasil pengumuman kelulusan.”
Kening dari lawan bicaranya mengerut kemudian beberapa detik kemudian ia menjentikan jari. “Ah ya, betul. Aku memang sempat mendengar pengumuman kelulusan untuk penerimaan mahasiswa baru adalah hari ini.”
“Begitulah, Sora-san. Setelah itu, mungkin aku akan mengajak Reika jalan-jalan,” Jawab Kyouta ringan.
“Menghabiskan masa terakhirmu untuk bisa bersenang-senang ya?” Goda Sora sambil tertawa ringan membuat Kyouta juga ikut-ikutan tertawa.
“Kyouta-kun, kamu sudah datang?”
Sebuah suara mengagetkan dua orang yang tengah bercengkrama. Suara itu mampu membuat mereka menoleh ke arahnya. Seorang anak perempuan di sana. Ia berdiri di depan pintu sambil melambaikan tangannya.
Gadis itu membuat Kyouta langsung mengangguk untuk memohon pamit kepada Sora. Sebuah kejadian yang membuat Sora geleng-geleng kepala sambil masuk ke dalam rumahnya.
“Kyouta, maaf, bisakah kamu menunggu sebentar? Aku bahkan belum menghabiskan sarapanku.”
Kyouta terperanjat. Ia buru-buru melirik arlojinya. Memang ia tahu, ini masih terlalu pagi. Tetapi lebih baik berjalan dengan santai daripada terburu-buru bukan? Wajahnya panik.
 “Tapi, Reika,” Kyouta menarik napas pelan. Ia mencoba untuk mengontrol emosinya. Kecemasan dan kepanikan juga rasa gugup bercampur menjadi satu.
“Boleh ya? Masuk dulu saja. Di rumah sedang tidak ada orang.” Reika memasang wajah memohonnya sambil mempersilahkan laki-laki di hadapannya masuk.
Kyouta menghela napas panjang. Kakinya kemudian melangkah menapak ke dalam rumah mungil itu. “Cepat, Reika. Kita tidak punya waktu. Kenapa sih kamu selalu terlambat?” Ia menggerutu sambil melepaskannya alas kakinya lalu dijajarkan rapi di Genkan[2] Sementara Reika hanya bisa menutup pintu seraya berdecak pada laki-laki super rapi di hadapannya.
Sampai hari ini, Reika tak pernah tahu apa alasannya bisa menyukai orang seperfeksionis Kyouta. Sifat Reika yang cuek dan Kyouta yang disiplin yang bagaikan bumi dan langit.
Laki-laki itu mengambil tempat duduk di hadapan Reika. Matanya tak henti-hentinya menengok ke arah jam dinding. “Ayolah cepat!” ucapnya dengan kesal. Namun Reika hanya memiringkan kepalanya sambil melahap rotinya seperti iklan produk roti di televisi.
Wajah Kyouta semakin terlipat. Mungkin kali ini dua ratus lipatan. “Kalau kamu tidak cepat, nanti kutinggal,” ancamnya.
Reika tersenyum kecil saat menatap wajah kekasihnya yang mulai tertekuk bak kardus yang terlipat-lipat tak beraturan. Namun gadis ini hanya diam sambil melanjutkan  makannya dengan tenang. Bahkan Reika dengan  sengaja memperlambat kelajuan makannya. Sekonyong-konyong ancaman Kyouta hanya sebuah angin yang berhembus. Ia suka dengan mimik kesal Kyouta. Ia cukup senang mengerjai lelaki di hadapannya.
“Tinggal saja,” tantang Reika sambil melanjutkan makannya lagi.
Kyouta tercengang. Air mukanya berubah. Reika tahu. Ya, ia dapat membacanya dengan amat jelas. Dua kata: Kyouta kalah.
“Satu poin,” ucap gadis itu sambil tertawa. Dilanjutkannya aktivitas ‘mengoles selai ke roti’ sambil sesekali melirik ke arah kekasihnya. “Mau?”
Kyouta terperangah. Baru kali ini ia menemukan seseorang yang berani melawan. Apalagi dia seorang perempuan. Laki-laki itu hanya sanggup menggelengkan kepala saat kekasihnya menawari roti.
“Ini bukan saatnya bersantai-santai ria, Reika!” Ucap Kyouta dengan mimik kesal.
Kyouta memang tidak suka menunggu. Satu menit itu terasa satu abad. Waktu seolah berputar sangat lambat baginya.
Gadis itu mengulas senyum kala menyadari bahwa ancaman Kyouta kini hanya sebuah kata-kata kosong. Ritual sarapannya selesai ketika jarum jam menunjuk angka satu.
“Tinggal dua puluh menit lagi,” batin Kyouta dalam hati saat mereka keluar dari rumah.



[1] Tumbukan memantul
[2] Area yang lebih rendah daripada area rumah untuk menaruh alas kaki.
 

Catching Dream : book Copyright © 2013 Kannethly Garry