PROLOG
Seorang
anak berusia hampir delapan belas tahun mendengus pelan menatap langit yang
mulai menampakan warna kemerahan. Ia tahu, cepat atau lambat, ia harus pulang
ke rumah. Rumah yang dingin dan sepi, sama seperti kesendiriannya di sekolah
ini.
Hidupnya
sama saja. Hanya hitam dan putih; bangun lalu bersiap untuk pergi ke sekolah,
naik bis dengan jadwal setengah 9, duduk diam di kelas, pulang dengan bis jam
empat, mengerjakan pekerjaan rumah, istirahat. Begitu saja. Hanya begitu.
Rutinitas
yang membosankan. Pikirannya berpencar entah ke mana. Mencari sesuatu yang
terasa hilang dari hidupnya. Namun rasanya semua itu hanya sia-sia. Karena
semakin ia mencari, semakin ia tersesat dalam pikirannya sendiri.
Anak
ini tidak pernah mengecewakan orang tuanya. Ia juga memiliki otak yang brilian
hingga selalu mendapat pujian dari guru-guru. Bukan hanya itu, prestasinya di
bidang non-akademik pun dapat diacungi jempol. Tetapi lagi-lagi, masih ada yang
kurang di hatinya. Sesuatu yang kosong, yang seharusnya ada.
Untuk
itulah, dalam beberapa hari ini, anak itu berjalan menyusuri lorong-lorong
sepi. Mencari jawaban akan pertanyaan yang seharusnya diajukan kepada dirinya
sendiri. Semakin melangkah, semakin ia yakin akan sebuah keputusan. Keputusan
yang mungkin bisa mengubah hidupnya.
Lambat
laun, ia mempercepat langkahnya dengan percepatan konstan. Makin lama makin
cepat, hingga gema dari derap langkah sepatunya terdengar. Sepasang kaki itu
berlari menuju lantai paling atas. Napasnya mulai terengah-engah namun ia tetap
meneruskan langkahnya.
Dihembuskannya
napas lega ketika kakinya memijakan lantai teratas. Cahaya menyilaukan dari
matahari menerobos masuk melewati celah yang ia buat ketika ia membuka pintu.
Ia mengerjapkan mata beberapa kali agar matanya dapat beradaptasi.
Anak
itu tersenyum pada mentari yang akan tenggelam. Ia berdiri menatap langit yang
oranye. Ia tahu bahwa mentari masih akan bertengger di ufuk barat lebih lama
lagi.
“Apa
lagi?” Desisnya risau, sementara tangannya seperti menghitung sesuatu yang berputar
di kepalanya. Mimiknya menandakan ia sedang berusaha mengingat sesuatu. Sambil
menatap langit, ia terus bergumam dalam hati.
Kadang
ia berpikir tentang hidupnya sendiri. Mungkin saja ketika ia terlahir kembali
ke dunia, anak ini akan mengalami hal-hal yang berbeda. Sebuah kehidupan yang
tidak semonoton sekarang. Jalan yang akan berubah-ubah seperti warna langit
yang berubah setiap jamnya.
“Bodoh.”
Ia tertawa geli dalam hati. Namun imajinasinya masih saja berlaku liar. Otaknya
mengandaikan kemungkinan ia akan lahir dari sebuah keluarga petualang yang
menyusuri setiap lembah dan pegunungan. “Atau bisa jadi terlahir sebagai bagian
dari sebuah keluarga kerajaan di daratan Eropa. Sepertinya menarik,” batinnya
dalam hati.
Tertawa.
Lagi-lagi ia menertawakan pikiran bodohnya. Sebuah hal yang mustahil. Ia
membenturkan kepalanya di tralis besi itu satu kali. Sejak kapan ia jadi sering
berkhayal begini?
“Mungkinkah
karena dia?” Ia menengadah seperti meminta jawaban pada sang pencipta. Tetapi
beberapa detik kemudian ia menggelengkan kepalanya. “Mana mungkin.” Kali ini
nadanya seolah mengejek. Mengata-ngatai dirinya sendiri.
Ia
menjulurkan kepalanya ke bawah. Ia tahu dengan amat pasti; kalau ia terjatuh,
ia pasti akan mati dalam sekejap.
“Tetapi
bukankah lebih baik agar aku pergi,” Batinnya. “Kurasa tidak akan ada yang
memerhatikanku bahkan tidak ada yang akan menangisiku. Mungkin saja, hanya ini
satu-satunya cara agar aku bisa mengetahui tentang hal-hal yang terjadi ketika
aku terlahir kembali.”
Tangannya
merogoh kantong celananya. Sesuatu yang selalu ia simpan. Sebuah bukti memori
yang tak akan pernah ia buang. Selembar foto yang merefleksikan dirinya bersama
seseorang. Mereka tertawa begitu bahagia di sana. Tetapi kini, berbeda. Tawa
itu kini berubah menjadi senyum pilu.
Anak
itu tertawa. Tawa getir penuh kesedihan. Dadanya semakin sesak dan lambat laun,
air mata turun ke pipinya. Tak jelas. Ia pun tak mengerti. Ia tertawa sambil
menangis.
Ada
sesuatu yang mengganjal di hatinya. Sesuatu yang membuat ia merasa bahwa ini
adalah satu-satunya cara untuk meluapkan perasaannya. Dianggap gila pun ia
sudah tak peduli.
Mendadak
suara tawa itu berubah menjadi diam. Suasana menjadi sunyi. Sebuah senyum
mengembang di wajahnya; senyum kepuasan. Ia telah memutuskan sesuatu—sepertinya
begitu.
Ia
tercenung, “Terlalu cepat.”
Batinnya
masih memberontak, tetapi keinginan dagingnya justru lebih kuat. Egonya sendiri
yang meminta ia untuk melakukan hal tersebut. Ia sudah terlalu lelah; lelah
untuk menapaki hidup yang seperti ini.
Dengan
tangan yang bergetar ia menggenggam tralis besi putih di hadapannya, menarik
napas, merasakan jutaan molekul oksigen masuk ke paru-parunya. Kakinya mulai
menyelinap masuk di antara celah-celah besi setinggi satu meter itu.
Namun,
“Hei!”
Ia
menengok ke belakang dan seseorang berada di sana.
1. Sebuah Langkah
Angin musim dingin menghembus. Sesuatu yang
membuat gigi anak-anak yang sedang bersembunyi di balik pohon itu bergemerutuk.
Beberapa orang yang lewat memperhatikan gerombolan anak itu dengan bingung.
Namun ketika orang-orang tersebut menengok ke arah lain, mereka langsung
mengangguk pergi.
Arah lain itu. Di sana, ya tepat di sana. Di
sebuah bangku panjang yang dingin, Seorang anak laki-laki berjaket tebal duduk
sambil menghentakan kakinya. Dari mimiknya, ia terlihat ragu dan takut.
Beberapa kali ia menengok ke arah pohon sakura
tempat teman-temannya berdiri. Salah seorang dari mereka mengacungkan jempol
kanannya. “Pasti bisa.” Hanya itu yang terbaca dari gerak bibir si pengacung
jempol.
Anak yang duduk di bangku panjang tersebut
mendengus. Tangannya menarik topi yang ia kenakan. Rasa frustasi menjalar melalu
pembuluh darahnya. Jantungnya berdegup kencang. “Ini tak semudah yang kau
bayangkan, Bodoh!” Pekiknya dalam hati.
“Toyama, apakah kamu sudah menunggu lama?”
Suara itu membuat anak laki-laki itu mendongak.
Seorang gadis terengah-engah di depannya sambil membungkuk. “Maaf aku
terlambat.”
Suara perempuan di hadapannya membuat atom-atom
di dalam tubuhnya bergetar. Elektron-elektronnya seperti bertumbukan yang
lenting secara sempurna[1].
“Ti..Tidak apa-apa kok.” Toyama menggeser
posisi duduknya, memberikan ruang untuk gadis ini untuk duduk. Tubuhnya semakin
bergetar. Sepertinya selain udara dingin, wanita juga bisa membuat ia menggigil.
“Ada apa, Toyama? Tak biasanya kamu memintaku
untuk datang. Maksudku, berdua seperti ini.”
Dada Toyama serasa ingin robek. Jantungnya
ingin keluar setiap kali perempuan di sebelahnya melafalkan namanya. Padahal
gadis ini bukan dalam sekejap mata dikenalnya. Enam belas tahun, Kawan. Mungkin
saja ini sudah keseribu kali perempuan di sebelahnya memanggil namanya. Tetapi
yang kali ini, berbeda.
Mata Toyama bergerak ke arah pohon sakura
tempat sahabat-sahabatnya yang terus menyemangatinya. Ia merasa seperti berada
pada pertandingan sepakbola namun dengan pemandu sorak yang berkostum jaket
tebal dan rambut pendek.
“Aku ingin membicarakan sesuatu, Ayaka.” Ia
menarik napas sejenak. Mengumpulkan keberanian yang mungkin telah menguap.
“Mungkin aku terlihat gila.” Toyama memainkan jari-jarinya yang terbungkus
sarung tangan. “Tapi, aku menyukaimu.”
Gadis itu menampakan ekspresi kaget lalu
tiba-tiba menunduk. Ujung sepatunya bergerak-gerak. Bahkan di musim dingin ini,
ia merasa wajahnya masih tetap bisa memerah. Sahabat sejak kecilnya ini
berhasil membuat darah di tubuhnya berdesir dengan cepat.
“Aku tau, mungkin aku gila.” Ia tertawa kecil,
menertawakan dirinya sendiri. “Maksudku, kamu itu memiliki banyak teman. Juga
banyak yang lebih baik dari aku, tetapi…” Toyama menggaruk kepalanya. Ia
kehabisan kata-kata. “Apa kamu mau jadi pacarku?”
Ayaka masih tetap diam mematung dalam
kebimbangannya. Sesuatu yang membuat Toyama semakin takut. Ia lebih takut
kehilangan Ayaka sebagai teman daripada ditolak. “Pengecut.” Batinnya mengumpat
ke arah dirinya sendiri.
Satu menit rasanya seperti seabad saat
menunggu. Apalagi menunggu jawaban. Ditambah lagi jawaban itu ada hubungannya
dengan masa depanmu. Mungkin semenit seperti seratus juta tahun cahaya lamanya.
“Maaf.” Akhirnya kata-kata itu yang keluar dari
mulut Toyama. “Kalau memang lebih baik begitu, kita—”
“Selalu saja, Toyama.” Tiba-tiba Ayaka memotong
pembicaraan Toyama dengan santai. Gadis itu memang selalu begitu. Hidupnya
terlihat serba ringan. Sama seperti namanya yang berarti ‘bunga yang berwarna’.
Hidupnya pun penuh warna.
Toyama mengerutkan keningnya tak mengerti. Ia
tak bisa membaca pikiran gadis yang kini tersenyum ke arahnya. “Kamu itu selalu
gegabah.” Ia menatap wajah Toyama dalam-dalam. Sesuatu yang membuat tubuh
laki-laki itu membeku. “Bisakah kamu menunggu aku mempersiapkan jawaban yang
terbaik?”
Toyama semakin mengangkat alisnya bingung.
“Jawaban apa?” Batinnya menggemuruh.
“Karena aku ingin menjawab ‘ya’, tapi kurasa
jawaban ‘ya’ tak pernah cukup untuk menggambarkan semua.”
Sebuah kalimat yang meluncur begitu saja dari
mulut Ayaka membuat Toyama hampir ternganga. Kalimat itu seolah menerbangkan
Toyama ke langit yang biru di atas sana.
Ayaka kini menunduk malu. “Aku sudah menunggu
sekian lama, Toya-kun. Kupikir, mungkin aku terlalu berharap. Kupikir kamu cuma
menganggapku sebagai teman masa kecilmu.”
Toyama semakin mengerutkan keningnya. Ia
seperti bermimpi. Benarkah ini Ayaka yang
berbicara padaku? Otaknya tak bisa bekerja. Setiap kepingan logikanya tak
bisa menyambungkan makna dari semua hal yang berada di hadapannya.
“Biarpun kamu pendiam, tetapi tak sedikit yang
menyukaimu.” Ayaka tertawa kecil. “Kenapa kamu baru mengutarakannya sekarang,
Toyama?”
Toyama mengehembuskan napasnya. Uap putih
beterbangan dari mulutnya. “Kamu itu selalu dikelilingi anak laki-laki. Kento,
contohnya. Dia—”
Ayaka menyikut Toyama pelan. “Dia hanya teman.
Berapa kali aku harus bilang padamu, Toyama?” Gadis ini memajukan bibirnya.
“Jangan katakan bahwa kamu cemburu dengan Kento.”
Toyama lagi-lagi menggaruk kepalanya yang tak
gatal. Ya, sudah beberapa bulan ini ia dibakar cemburu oleh kegencaran Kento
mendekati Ayaka. Sesuatu yang membuat Toyama nekat untuk mengutarakan isi
hatinya sebelum keduluan Kento.
“Mengakulah padaku, apa benar?” Ayaka
menampakan wajah jenakanya. Wajah yang selalu menghiasi mimpi-mimpi indah
Toyama.
Toyama
mengangguk juga pada akhirnya membuat Ayaka semakin terbahak.
“Untuk itukah kamu memintaku jadi pacarmu? Agar
tidak keduluan Kento?”
Bagai tersambar petir, Toyama terkejut bukan
kepalang. Setelah terbang begitu jauh, ia bagaikan dilemparkan ke bawah. Tidak
ada yang lebih mengejutkan daripada Ayaka yang langsung bisa membaca setiap
pikirannya.
Laki-laki itu hanya mengangguk. Ia tak bisa
berkata-kata lagi. “Mungkin ini efek berteman selama enam belas tahun,” batinnya.
“Sayangnya, Kento sudah mengutarakan perasaannya
terlebih dahulu.”
Pernyataan yang ini lebih hebat lagi efeknya.
Bukan cuma dilempar. Toyama merasa tubuhnya menyublim. Seolah nyawanya melayang
entah ke mana. Mulutnya hanya bisa menganga. Kepalanya terasa berat. Ia tak
bisa berkata-kata.
“Lalu kamu menerima Kento, begitu?” Toyama
berkata dengan cepat. Ia panik.
“Iya,” Jawab gadis itu dengan nada meyakinkan.
Kini semuanya terasa pecah berkeping-keping.
Tubuh laki-laki itu tertunduk lesu dalam kebimbangan. Namun sedetik kemudian,
tawa lagi-lagi terdengar dari sebelahnya.
“Toyama, kenapa sih kamu begitu polos? Bukankah
sudah kubilang bahwa aku ingin jadi pacarmu? Artinya aku tentu tidak menerima
Kento.” Ayaka tertawa geli sambil menyandarkan kepalanya di pundak Toyama. Jari
telunjuknya menyentuh pipi laki-laki itu pelan.
Dengan hati-hati, tangan Kento mulai berani
melingkar di pinggang Ayaka. “Jadi kita pacaran?”
Ayaka melirik ke arah wajah sahabat kecilnya
yang kini mulai tampak dewasa. Teman yang sebentar lagi akan resmi menjadi
kekasihnya. Kawan yang ia cintai sejak satu tahun belakangan ini. Orang yang
membuat hari-harinya berbeda. Memberikan makna baru dalam setiap sudut selnya.
“Maumu?” Ayaka balik bertanya.
“Aku mau kamu jadi pacarku.” Toyama berkata
tegas.
“Kalau begitu, terjadilah.”
Toyama menatap heran kepada Ayaka. Ini tak
seperti yang ia pikirkan. Asumsi yang tergambar rumit seolah mengilang dari
pikirannya. Ini sangat sederhana. Kenapa ia harus cemas? Kenapa ia harus gugup?
“Tapi kenapa?” Tanya Toyama. Ia masih ingin
meyakinkan dirinya sendiri bahwa yang di hadapannya kini benar-benar Ayaka.
Ayaka yang ternyata menyukai dirinya. Ayaka yang rupanya membalas perasaannya.
“Suka,” Katanya tertawa. “Kamu?”
“Suka,” Jawab Toyama tanpa ragu.
Senyum mengembang di sudut bibir kedua insan
yang tengah dimabuk asmara tersebut. Sementara Ayaka masih bersandar manja,
Toyama melirik ke arah pohon sakura tempat teman-temannya bertepuk tangan
kecil. “Terima kasih atas dukungannya,” Bisik Toyama pelan ke arah mereka.
Mereka hanya mengacungkan jempol mereka sambil
tersenyum lebar.
*****
Langit pagi memang selalu menjadi pemandangan
favorit seorang pria yang berjalan lambat-lambat. Ia ingin menikmati setiap
pemandangan yang jarang sekali ia rasakan. Baginya, suasana musim semi terasa
semakin dekat saja. Sebuah pertanda bahwa ia akan pergi menanggalkan seragam
sekolahnya.
Langkah kaki lelaki ini berhenti di depan
sebuah rumah mungil yang beraksen kayu. Ia memandangi rumah itu sebentar.
Setelah lulus nanti, ia mungkin tak akan bisa sering-sering bertemu dengan
seseorang yang berada dalam rumah ini.
“Pagi, Kyouta. Tumben sekali kamu datang sepagi
ini. Bukankah ini masih libur?” Sapa seseorang ramah dari sebuah rumah di
sebelah. “Atau mungkin kamu ingin pergi kencan dengan Reika?”
Kyouta menengok kaget. Hanya beberapa detik
sebelum kemudian ia tersenyum sambil membungkukan badannya. “Selamat pagi, Kak
Kurizawa.”
Kyouta memang selalu mengagumi sosok yang
berada di hadapannya. Sora Kurizawa, seorang mahasiswa di Universitas Tokyo.
Universitas yang menjadi idamannya. “Hari ini aku bersama Reika ingin melihat
hasil pengumuman kelulusan.”
Kening dari lawan bicaranya mengerut kemudian
beberapa detik kemudian ia menjentikan jari. “Ah ya, betul. Aku memang sempat
mendengar pengumuman kelulusan untuk penerimaan mahasiswa baru adalah hari
ini.”
“Begitulah, Sora-san. Setelah itu, mungkin aku akan
mengajak Reika jalan-jalan,” Jawab Kyouta ringan.
“Menghabiskan masa terakhirmu untuk bisa
bersenang-senang ya?” Goda Sora sambil tertawa ringan membuat Kyouta juga
ikut-ikutan tertawa.
“Kyouta-kun, kamu sudah datang?”
Sebuah suara mengagetkan dua orang yang tengah
bercengkrama. Suara itu mampu membuat mereka menoleh ke arahnya. Seorang anak
perempuan di sana. Ia berdiri di depan pintu sambil melambaikan tangannya.
Gadis itu membuat Kyouta langsung mengangguk
untuk memohon pamit kepada Sora. Sebuah kejadian yang membuat Sora
geleng-geleng kepala sambil masuk ke dalam rumahnya.
“Kyouta, maaf, bisakah kamu menunggu sebentar?
Aku bahkan belum menghabiskan sarapanku.”
Kyouta terperanjat. Ia buru-buru melirik
arlojinya. Memang ia tahu, ini masih terlalu pagi. Tetapi lebih baik berjalan
dengan santai daripada terburu-buru bukan? Wajahnya panik.
“Tapi,
Reika,” Kyouta menarik napas pelan. Ia mencoba untuk mengontrol emosinya.
Kecemasan dan kepanikan juga rasa gugup bercampur menjadi satu.
“Boleh ya? Masuk dulu saja. Di rumah sedang
tidak ada orang.” Reika memasang wajah memohonnya sambil mempersilahkan
laki-laki di hadapannya masuk.
Kyouta menghela napas panjang. Kakinya kemudian
melangkah menapak ke dalam rumah mungil itu. “Cepat, Reika. Kita tidak punya
waktu. Kenapa sih kamu selalu terlambat?” Ia menggerutu sambil melepaskannya
alas kakinya lalu dijajarkan rapi di Genkan[2]
Sementara Reika hanya bisa menutup pintu seraya berdecak pada laki-laki super
rapi di hadapannya.
Sampai hari ini, Reika tak pernah tahu apa
alasannya bisa menyukai orang seperfeksionis Kyouta. Sifat Reika yang cuek dan
Kyouta yang disiplin yang bagaikan bumi dan langit.
Laki-laki itu mengambil tempat duduk di hadapan
Reika. Matanya tak henti-hentinya menengok ke arah jam dinding. “Ayolah cepat!”
ucapnya dengan kesal. Namun Reika hanya memiringkan kepalanya sambil melahap
rotinya seperti iklan produk roti di televisi.
Wajah Kyouta semakin terlipat. Mungkin kali ini
dua ratus lipatan. “Kalau kamu tidak cepat, nanti kutinggal,” ancamnya.
Reika tersenyum kecil saat menatap wajah
kekasihnya yang mulai tertekuk bak kardus yang terlipat-lipat tak beraturan.
Namun gadis ini hanya diam sambil melanjutkan makannya dengan tenang. Bahkan Reika
dengan sengaja memperlambat kelajuan
makannya. Sekonyong-konyong ancaman Kyouta hanya sebuah angin yang berhembus. Ia
suka dengan mimik kesal Kyouta. Ia cukup senang mengerjai lelaki di hadapannya.
“Tinggal saja,” tantang Reika sambil
melanjutkan makannya lagi.
Kyouta tercengang. Air mukanya berubah. Reika
tahu. Ya, ia dapat membacanya dengan amat jelas. Dua kata: Kyouta kalah.
“Satu poin,” ucap gadis itu sambil tertawa. Dilanjutkannya
aktivitas ‘mengoles selai ke roti’ sambil sesekali melirik ke arah kekasihnya.
“Mau?”
Kyouta terperangah. Baru kali ini ia menemukan
seseorang yang berani melawan. Apalagi dia seorang perempuan. Laki-laki itu
hanya sanggup menggelengkan kepala saat kekasihnya menawari roti.
“Ini bukan saatnya bersantai-santai ria,
Reika!” Ucap Kyouta dengan mimik kesal.
Kyouta memang tidak suka menunggu. Satu menit
itu terasa satu abad. Waktu seolah berputar sangat lambat baginya.
Gadis itu mengulas senyum kala menyadari bahwa
ancaman Kyouta kini hanya sebuah kata-kata kosong. Ritual sarapannya selesai
ketika jarum jam menunjuk angka satu.
“Tinggal dua puluh menit lagi,” batin Kyouta
dalam hati saat mereka keluar dari rumah.
0 comments:
Post a Comment